Jakarta — Lembaga Pendidikan (LPD) Yale Communication bersama Relawan TIK Kalimantan Barat, Relawan TIK, APEKKA, dan AiCI sukses menyelenggarakan webinar nasional gratis bertajuk "AI-First Software Engineering - Dari Teori Konseptual hingga Eksekusi Kode dengan AI: Studi Kasus Membuat Aplikasi Absensi". Acara ini dilaksanakan secara daring melalui platform Zoom pada hari Selasa, 29 September 2026, pukul 18.30 hingga 21.00 WIB.
Sebagai salah satu lembaga kursus
dan pelatihan komputer terkemuka, LPD Yale Communication secara konsisten
memprakarsai kegiatan edukatif ini guna mempersiapkan talenta digital Indonesia
agar siap menghadapi perkembangan teknologi kecerdasan buatan (Artificial
Intelligence) yang masif di dunia industri.
Webinar ini menghadirkan sejumlah tokoh penting di bidang teknologi dan pendidikan sebagai pembicara kunci, di antaranya Ferianto, S.Hut., M.M. (Direktur LPD Yale Communication), Dr. Baiq Hana Susanti, M.Sc. (Ketua APEKKA & Direktur AiCI), Hani Purnawanti, S.E., M.M. (Ketua Umum RTIK Indonesia), serta Nur Mujahidin selaku narasumber utama dari LPD Yale Communication. Jalannya diskusi dipandu dengan interaktif oleh Rahmad Widyo Utomo, S.Kom. sebagai moderator.
Dalam pemaparan materinya,
dibahas bahwa lanskap rekayasa perangkat lunak di tahun 2026 telah mengalami
pergeseran besar. Penulisan kode bukan lagi sebuah bottleneck karena
fase pembangunan (build) yang sebelumnya memakan waktu berminggu-minggu
kini dapat disingkat menjadi hitungan jam berkat bantuan agen AI.
Para engineer tidak lagi diukur dari banyaknya baris kode yang mereka ketik, melainkan bertransformasi menjadi Architect of Intent—fokus pada desain sistem, keamanan, batas izin (guardrails), serta orkestrasi eksekusi multithread. Konsep Context Engineering juga menjadi mata uang baru, di mana dokumen terstruktur seperti intent.md, spec.md, dan plan.md digunakan sebagai artefak yang dapat dibaca mesin untuk memandu agen AI.
Selain teori konseptual, sesi ini
juga menampilkan studi kasus praktis mengenai pembuatan aplikasi absensi
menggunakan ekosistem agen AI terkini—mulai dari penggunaan AI IDEs (seperti
Cursor dan Windsurf), CLI Agents (Claude Code), hingga Cloud Agents. Diskusi
turut menyoroti pentingnya Guardrails & DevSecOps untuk memastikan
keamanan kode, mulai dari lapisan kebijakan penasihat (CLAUDE.md) hingga
lingkungan CI/CD yang terisolasi.
Acara yang dihadiri 160 peserta dari berbagai kalangan ini berlangsung sangat antusias. Para peserta mendapatkan berbagai keuntungan menarik, di antaranya ilmu yang bermanfaat, materi webinar, serta e-sertifikat resmi secara 100% gratis. Webinar ini ditutup dengan penekanan bahwa pemenang di era AI bukanlah tim yang menulis kode terbanyak, melainkan mereka yang mampu mengorkestrasi perubahan perangkat lunak yang paling dapat direviu, diuji, dan dipelihara secara presisi.


.jpeg)
